Suatu Pagi Berbincang Dengan Senogumira Aji Darma
Oleh: Hamdani Rais
Ketika saya meniatkan pada diri ini, dari Ternate pada tanggal 10 Januari 2022, saya hanya membawa dua buku ketika saya hendak berangkat ke Pare kediri untuk mengikuti program kampung bahasa Inggris. Dua buku itu adalah; satu novel yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma “sepotong Senja Untuk Pacarku” dan satu lagi Novel yang ditulis oleh Mo Yan, peraih nobel sastra berjudul “Sorgum merah” dua buah novel ini menemani hari-hari saya sepanjang berkutat dengan bahasa inggris yang rumit dan membingungkan itu. Masuk dalam suatu waktu saya diberi banyak kemudahan dalam proses. Saya mengikuti seleksi pendanaan test toefl yang didanai oleh Awardee LPDP pk 177 tepat bulan ke empat saya berada di Pare dan Alhamdulillah saya lulus ujian test toefl dengan nilai pas-pasan. Seiring berjalannya waktu sembari belajar bahasa inggris saya kemudian mendaftar ujian masuk masuk Pasca sarjana Antropologi universitas Gadjah Mada dan Alhamdulillah saya lulus mendapatkan Letter of acceptance (LOA).
Pada Rabu tanggal 24 Agustus, 2022 saya berada di indekos teman pagi jam 8:23 WIB. Ketika itu saya ditelpon sama admin panitia seleksi beasiswa untuk segera masuk room meeting, saya menunggu cukup lama sekitar 32 menit terombang ambing di dalam zoom tersebut.
Ketika jarum jam meniti ke 09:00 PM, rona mata saya tertuju di layar laptop dan melihat pertama kali Seno Gumira Ajidarma, saya langsung spontan panggil Mas Seno, letupan emosi bercampur kegugupan. Saya langsung berujar dalam hati saya hari ini pasti saya akan dihajar dengan pertanyaan yang bakalan susah saya jawab. Ia tanpa basa-basi langsung menanyakan hal yang fundamental. Setelah saya memperkenalkan diri selesai. Saya masih ingat persis pertanyaan pertama Seno Gumira Ajidarma, Untuk apa kamu belajar antropologi ke jenjang S2? Saya dengan spontan menjawab ingin menyuarakan suara kaum marginal, jelas keberpihakan saya. Seperti apa yang kamu bayangkan tentang kaum marginal itu, apakah di daerah kamu di Maluku utara sangat banyak ataukah, persepsi kamu saja yang menganggap mereka kaum marginal? Seketika saya langsung merespons dengan menggunakan literatur dan data sebagai basis argumen, sebab kita tidak sedang berbincang dengan orang awam. Mas Seno sekarang menjabat rektor institute kesenian Jakarta, puluhan buku sastra dan Filsafat yang Ia tulis, wartawan senior kompas (jelas bukan orang kaleng-kaleng) saya dipacu untuk berpikir dari hal-hal yang sulit saya bayangkan. Pertanyaan satu melompat ke pertanyaan lain, dan saya cukup kesulitan membingkai dalam suatu argumen yang punya benang merah, ini kelemahan tentu saja.
Saya kemudian bergumam memang seleksi beasiswa ini tidak mudah, sebagaimana para motivator ulung yang sering sekali berbicara di podcast mereka tentang menaklukan beasiswa tidak semanis yang mereka bincangkan itu. Dan Alhamdulillah hari ini kabar manis dalam di email saya. Selamat anda lulus seleksi beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) DN tahun 2022.

Komentar
Posting Komentar